4 Jurus agar Tulisan Kita Indah

Menulis
Menulis (Gambar: Wulan)

Bicara soal menulis, baik teknik dan motivasi, rasanya tidak pernah akan habis. Sejalan dengan perkembangan zaman, semakin banyak hal-hal yang perlu dibahas. Meski karya sudah banyak yang tertulis, tetap saja kita tidak boleh pernah berhenti belajar. Berkarya dan belajar adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sabtu lalu, Klub Pena yang saya asuh kembali mengadakan sedaring (seminar daring) tentang indahnya berkomunikasi lewat tulisan. Bagi saya tulisan itu indah jika kita memiliki keterampilan yang memadai sebagai penulis. Bagus tidaknya tulisan bukan hanya soal konten, melainkan juga teknik menulis yang baik. Acara ini mengupas jurus agar tulisan kita indah.

Bagi penulis pemula yang sering saya bimbing, ada beberapa kelemahan yang selalu berulang, meskipun mereka sudah sering menulis. Memang tidak ada kesuksesan yang tercipta secara instan. Semua butuh proses yang memakan waktu. Bisa setahun, bisa belasan tahun, bahkan puluhan tahun. Jangan menyerah, latihan saja terus. Setelah beberapa waktu lalu saya kembali melahap teori-teori tentang menulis dari berbagai sumber, ada 4 hal yang saya garisbawahi untuk saya bagikan kepada peserta sedaring pada Sabtu kemarin.

Keempat hal ini bisa dijadikan pedoman untuk penulis, agar lebih waspada dalam menulis. Silakan simak tulisan berikut ini.

1. Jangan Pelit Menggunakan Kata dan Tanda Baca

Bagi seorang pemula yang baru mulai menulis, sangat wajar apabila dia belum tahu memilih kata dan menempatkan tanda baca yang benar. Jangan pelit menggunakan kata di sini saya maksudkan sebagai tidak lengkapnya informasi yang ingin disampaikan. Untuk tulisan nonfiksi, sebisa mungkin, satu kalimat berisi informasi yang dimengerti oleh pembaca. Misalnya, kehadiran subyek dan predikat pada kalimat adalah hal yang sangat penting dan sering kali terabaikan. Sampaikan sesuatu itu dengan kalimat yang sempurna dan tidak terpotong. Pembaca bukanlah orang yang kita ajak bicara secara langsung. Jika ada ucapan yang kurang jelas, lawan bicara kita bisa bertanya dan kita sebagi pembicara bisa menambahkan atau meralat ucapan. Tidak demikian halnya dengan bahasa tulisan. Semua informasi harus tertulis dengan jelas.

Pemakaian tanda baca pun punya peran penting. Jangan sampai kalimat yang ditulis sangat panjang tidak diberi tanda koma sebagai jeda. Atau, karena ingin semua informasi kita jejalkan, penulis lupa untuk memenggalnya menjadi beberapa kalimat. Seorang penulis pemula perlu tahu tiap fungsi tanda baca itu untuk apa. Dengan kata lain, jangan melaju tanpa rem.

2. Pahami Kalimat Efektif agar Terhindar dari Pemborosan

Penyakit kedua yang sering muncul adalah penggunaan kalimat yang tidak efektif. Memasukkan kata yang terkean sebagai pemborosan. Pemborosan yang paling sering terjadi adalah mengulang-ulang kata yang sama, atau tanpa sadar menyebutkan hal yang sama dengan bentuk yang berbeda pada satu kalimat. Kalimat ditulis dengan sangat panjang dan akhirnya membuat bingung pembaca. Mudahnya, Yang harus dihindari adalah pengulangan kata dan pemakaian kata sambung yang tidak perlu. Untuk kalimat efektif ini memang membutuhkan pengetahuan yang cukup dan seringnya kita melatih diri.

3. Keep it Short and Simple (KiSS)

Saya menemukan istilah ini dan merasa tertarik. Bahasa tulisan membutuhkan ketepatan dalam menyampaikan sebuah makna. Berbeda dengan bahasa lisan (dalam percakapan) yang bisa dituangkan dengan panjang lebar, bahkan berulang-ulang. Cara mengantisipasi agar tulisan kita tidak keluar dari topik, KiSS ini bisa kita pakai. Sebagai pemula, latihlah cara menulis kita dengan kalimat-kalimat pendek dan sederhana. jangan tergesa untuk menuangkan segala hal dalam satu kalimat. KiSS memberikan batasan: untuk kalimat, tidak lebih dari 10 kata, dan untuk paragraf (alinea) tidak lebih dari 5 kalimat. Saya pikir, kehati-hatian seperti ini bisa membuat tulisan kita menjadi lebih rapi dan fokus.

4. Jadilah Pembaca bagi Tulisan Kita Sendiri

Setiap penulis, tentu ingin karyanya dibaca, kecuali untuk penulisan diari. Namun, sadarkah kita, sering kali mengabaikan tulisan yang telah kita buat? Selalu merasa sudah benar adalah sikap yang kurang bijak. Sebaiknya selesai kita menulis, bacalah beberapa kali, apakah penulisannya sudah tepat atau belum? Apakah tulisan kita sudah menyampaikan informasi seperti yang kita inginkan? Jangan-jangan, tulisan kita masih semerawut dan tidak enak untuk dibaca. Jika kita sebagai penulisnya saja bingung, apalagi pembacanya, bukan?

Setelah tahu, yuk, kita praktikkan bersama. Semoga tulisan kita semakin baik dan rapi. Jadikan tulisan kita sebagai alat komunikasi yang indah.

Baca juga: Swasunting, Mengapa Perlu?

Baca juga: Menjadikan Blog sebagai Sarana Menyalurkan Hobi Menulis

Foto: Freepik.com

 

2+
3 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like