4 Novel dalam Proses yang Pendek

Novel dalam Proses
Gambar: Wulan

Selain menulis buku 2 buku puisi dan 1 buku parenting, saya juga sudah menulis 4 buah novel. Tidak ada kekhususan buat saya harus menulis buku apa. Semua genre yang sudah dipelajari akan saya coba tulis, meskipun hasilnya belum maksimal.

Mengapa jadi lebih sering menulis novel dibandingkan dengan buku-buku nonfiksi? Bisa jadi, karena buat saya karya fiksi lebih cepat proses penulisannya. Novel yang saya buat berangkat dari ide yang berbeda. Rata-rata proses pengerjaannya sekitar 1 bulan, belum termasuk swasuntingnya. Mengapa 4 novel ini dikerjakan dalam proses yang pendek? Mampukah kita melakukannya?

Pada tulisan kali ini saya akan mengupas proses pendek  pembuatan 4 novel ini.

1. Novel Ibu Manda

Novel yang berkisah tentang seorang ibu yang mengurus tiga anak ini saya ambil idenya dari pengalaman saya dan anak-anak. Tiap ada peristiwa yang seru, lucu, atau menegangkan, saya ambil sebagai potongan-potongan bab. Ini mudah bagi saya yang pada waktu itu baru pertama kali mencoba membuat sebuah novel dengan 35.000 kata. Tiap bab adalah fragmen. Tiap bab memiliki konflik dan penyelesaiannya, tanpa ada kaitan peristiwa bab-bab sebelum atau sesudahnya. Saya hanya mengikat tiap bab dengan kesamaan tokoh-tokoh, lokasi, dan membuat benang merah, agar seolah-olah cerita ini tetap satu kesatuan. Awal dan akhir saya beri prolog dan epilog sebagai penguat keutuhan cerita. Denga memanfaatkan tantangan menulis novel 1 bulan di sebuah komunitas, akhirnya novel ini selesai.

2. Novel Semanis Brownies

Ini adalah novel kedua. Di usia jelita, saya tertantang untuk ikut pelatihan menulis novel teenlit pada sebuah komunitas menulis. Dengan dibimbing seorang penulis novel, saya serius mengikuti. Kalau pada umumnya novel remaja mengusung ide roman, saya tidak. Terinspirasi dari anak sulung yang sudah pandai memasak sejak SD, saya mengangkat ide tentang seorang gadis yatim piatu penjual kue. Saya mengangkat perjuangan gadis ini sepeninggal orang tuanya. Novel ini ditulis 1 bulan setengah dan diajukan ke penerbit mayor. Tak disangka, lolos cepat. Novel ini pernah diterbitkan dalam bentuk buku digital.

3. Novel Langkah ke Desa

Satu hari, saya ditantang kakak saya untuk menuliskan cerita dengan tema: kembali ke desa. Saya yang tertantang, mengambil ide pengalaman saya ketika menyelesaikan penelitian dialektologi di Kabupaten Karawang. Menyusuri desa seorang diri, dengan kecanggungan dan kelucuan yang terjadi di sana, saya jadikan dasar penulisan novel ini. Lagi-lagi saya memanfaatkan pelatihan menulis novel di sebuah komunitas. Dalam waktu kira-kira 1,5 bulan naskah ini selesai. Naskah ini sempat dikoreksi dua orang mentor dan dinyatakan layak diterbitkan.

4. Novel Bukan Mimpi

Keinginan menulis novel roman islami akhirnya kesampaian. Ide cerita ini murni fiktif. Saya tidak mengambilnya dari pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain. Novel ini berkisah tentang seorang muslimah yang pernah gagal dalam rencana pernikahannya. Lalu setelah bertahun-tahun berlalu, di tak sengaja bertemu dengan laki-laki yang akhirnya ingin menikahinya. Penulisan novel ini terasa lebih sulit dalam menyusun kerangka karena semuanya imajinasi. Demi mendisiplinkan diri, kembali saya ikut tantangan menulis novel 1 bulan, dengan panjang tulisan 50.000 kata. Tentu saja ini berat bagi saya yang biasanya hanya mampu menulis 35.000 kata untuk novel. Namun, akhirnya, bisa. Ketika saya memutuskan untuk membuat blog kembali, saya manfaatkan untuk mengunggah tiap 25 bab novel ini di blog. Saya pun mendapat reaksi dari pembaca, sekaligus koreksi. Setelah itu, barulah novel ini diterbitkan dalam bentuk buku.

Demikian proses pendek penulisan 4 novel. Tidak ada yang tidak mungkin. Jika kita mau serius dan mampu memanfaatkan waktu, insyaallah bisa. Satu lagi, jika kita ingin melakukan sesuatu, tempatkan ia dalam prioritas pertama. Jadi jangan sampai kita melalaikan atau menelantarkannya dengan alasan kesibukan yang lain.

Baca juga: Bagaimana Cara Menemukan Ide? 

Baca juga: Semangat dan Disiplin dalam Menulis

Baca juga: Cara Jitu Menulis Novel Teenlit

Foto: Freepik.com

4+
1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Kebuntuan Menulis
Read More

Penyebab Kebuntuan Menulis

Setiap penulis mungkin pernah merasakan kebuntuan menulis. Baik penulis pemula, maupun penulis mahir. Kebuntuan menulis atau yang lebih…