Berawal dari Pena

Berawal dari Pena
Berawal dari Pena (Gambar: Freepik.com)

Menulislah, agar kamu merasa bahagia. Saya sangat suka kalimat ini, meskipun entah siapa yang mengatakannya. Kalimat ini selalu menjadi penyemangat ketika tiba saatnya saya harus menuangkan kata-kata dalam tulisan. Kesenangan saya menulis diawali sejak masa kecil. Jika melihat ada kertas kosong atau buku cantik, saya tidak bisa tahan untuk tidak mencoret-coret lembarannya. Apa saja saya tulis. Semua memang berawal dari pena.

Kertas dan Pena

Pada 1980-an yang namanya kertas surat begitu populer. Kamu yang lahir di tahun itu pasti masih ingat, kan? Saling berkirim surat dengan teman-teman yang berjauhan, atau dengan teman pena yang kita kenal lewat pertemanan surat kabar atau majalah menjadi hobi yang saya gandrungi. Meskipun hubungan kami –saya dan teman itu—tidak terlalu akrab, lewat surat-menyurat komunikasi terasa menjadi asyik. Bahkan, tidak peduli apakah teman pena yang kita surati itu belum pernah kita jumpai.

Saya tidak terlalu ingat, apa sebenarnya yang saya tulis di masa kecil itu. Bisa jadi, hanya sekadar say hello. Halo, apa kabar kamu di sana? Mudah-mudahan sehat, ya. Aku di sini pun juga begitu. Mungkin ini yang selalu menjadi pembuka surat. Selanjutnya, mungkin, kami saling bercerita tentang kegiatan hari-hari di rumah atau di sekolah. Setelah menulisnya, lalu surat dikirim ke alamat yang dituju lewat kantor pos. Saat yang juga sangat membahagiakan adalah saat surat kita dibalas tentunya. Pak Pos membawa kabar gembira! Dengan berlonjak kegirangan, saya segera membuka surat dan membacanya. Begitulah seterusnya menulis surat menjadi hobi masa kecil. Inilah masa kecil yang sangat berkesan.

Agenda dan Diari

Setelah menginjak remaja, hobi menulis surat mulai luntur. Kegiatan tulis-menulis digantikan dengan sebuah agenda atau buku kecil yang manis. Saya memang sangat mudah mengikuti tren. Ketika teman-teman melakukan itu, saya menjadi ketularan. Agenda mungil menjadi tempat menuangkan tulisan-tulisan kreatif bergambar, atau sebagai tempat menumpahkan segala curhatan atas semua peristiwa yang saya alami, baik sedih, maupun senang. Ini yang dinamakan curhatan diari. Bayangan, kalau setiap hari kita menulis pada selembar atau dua lembar agenda, berapa banyak kita habiskan agenda dalam setahun? Hobi membeli agenda baru dengan aneka model dan penuh warna-warni semakin menggelora. Kegandrungan mencoret-coret agenda semakin terasa mengasyikkan.

Masa terus berlalu, nasib mengantarkan saya menjadi anak bahasa yang bergelut dengan mata kuliah bahasa dan sastra Indonesia. Sejak di bangku SMA pun sebenarnya saya sudah menyukai pelajaran yang satu ini. Jadi akhirnya saya berpikir, memang inilah dunia yang harus saya selami. Di saat menjalani masa-masa perkuliahan, mulai muncullah rasa romantis dalam menuangkan kata-kata. Jangan tanya ini muncul dari mana. Tiba-tiba begitu kuat menggerakkan jari-jari saya untuk menuliskan bait-bait puisi. Agenda yang selalu saya bawa mulai terisi banyak coretan puisi, tentang cinta, asa, alam, entah apa lagi.

Mesin Tik dan Komputer

Masa terus berputar, pena mulai tergantikan dengan mesin. Karya-karya yang semula saya tulis dengan pena mulai secara perlahan digantikan dengan mesin tik dan kemudian oleh komputer. Baik pena, maupun mesin tik, dua-duanya selamanya menjadi sarana bagi saya untuk melahirkan tulisan-tulisan. Dengan kedua benda ini, saya sangat menikmati hasilnya. Bukan hanya puisi, tulisan-tulisan saya merambah ke cerita-cerita pendek.

Baca juga: Mengapa Perlu menulis?

Foto: Freepik.com

5+
2 Shares:
4 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like