Cara Ibu Menghadapi Resesi

Cara Ibu Menghadapi Resesi
Gambar: Freepik.com

Apa sih, resesi? Ibu rumah tangga perlu tahu juga soal resesi, meskipun secara umum saja. Resesi menurut kamus artinya kelesuan dalam kegiatan ekonomi, dagang, industri, dan lain-lain.  Akibat pandemi negara-negara di dunia mengalami resesi, tak terkecuali negeri ini. Karena resesi orang banyak kehilangan pekerjaan. Apakah dampaknya terasa bagi para ibu? Tentu saja. Ibu adalah pemegang pengelolaan keuangan rumah tangga. Menjadi ibu rumah tangga, maupun ibu yang bekerja, sama-sama harus pandai memutar otak saat ini. Beberapa cara perlu dipikirkan dan dilakukan agar mampu bertahan di tengah resesi.

Berdiam diri atau pasrah bukanlah jalan keluar yang baik. Menurut saya, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan dalam menghadapi resesi, agar para suami yang mencari nafkah tidak bertambah sakit kepala.

1. Perketat Belanja

Saat ini kita sangat perlu memperketat belanja harian. Belanja harian di sini adalah menata ulang uang belanja. Belanja apa sajakah yang harus ditata ulang? Yang perlu ditata ulang adalah belanja makanan sehari-hari, pakaian, kebutuhan alat rumah tangga. Jika sebelumnya kita sangat boros dalam memasak atau membeli jajanan, sebisa mungkin dapat dibatasi. Mulailah kita melirik bahan murah atau membuat jajanan sendiri. Kemudian batasi belanja yang tidak termasuk kebutuhan pokok. Jika bisa ditunda, sebaiknya kita menundanya.

2. Rajin Menabung

Kembali menghidupkan budaya menabung adalah cara yang bisa kita lakukan. Saya masih melakukan ini. Menyisihkan kelebihan uang belanja tiap hari ke dalam tabungan (bisa berbentuk celengan) adalah hal yang menguntungkan. Jika dikumpulkan dari yang sedikit, lama-lama jadi bukit. Dalam keadaan mendesak, tabungan yang sudah lumayan terisi ini bisa kita gunakan. Tabungan ini sangat berguna sebagai dana darurat, selain kebutuhan belanja, seperti biaya pengobatan. Semua orang tidak menghendaki sakit. Namun, ada kalanya keadaan ini menghampiri. Jadi, dengan adanya tabungan, bisa sangat membantu.

3. Merawat Harta yang Ada

Coba amati kembali apa yang kita punya. Kemudian, sayangilah apa yang ada. Peralatan rumah tangga, furnitur, kendaraan, dan rumah adalah contoh harta yang kita miliki. Jagalah harta yang ada ini dengan sebaik-baiknya agar tidak mudah rusak. Karena jika sebentar-sebentar rusak, pasti kita ingin membeli atau memperbaiknya. Tentu hal itu akan memakan biaya, bukan? Tidak sedikit biaya yang akan kita keluarkan nantinya. Jika harta yang ada terjaga, kita tidak perlu pusing-pusing untuk mencari gantinya.

4. Hindari Utang

Berutang adalah cara yang mudah didapat, namun berat untuk melunasinya. Jika di masa resesi ini kita sedang memperketat pengeluaran, janganlah tergoda untuk berutang untuk memenuhi kebutuhan yang harusnya bisa kita atasi dengan cara yang lebih bijak. Utang hanya akan menambah masalah. Apalagi, jika kita tengah kehilangan pekerjaan atau terkena pemotongan upah kerja. Hidup akan terasa damai dengan tidak berutang, meskipun pas-pasan. Mulailah biasakan untuk membeli sesuatu sesuai kemampuan keuangan kita.  Jangan mudah tergoda rumput tetangga yang seakan tampak lebih hijau.

5. Jalan-Jalan Hemat

Masa resesi bukan berarti menghilangkan kesempatan kita untuk jalan-jalan bersama keluarga tercinta. Sekali-kali hal ini tidak mengapa kita lakukan asal menyesuaikan kondisi keuangan. Jika sebelumnya kita selalu memilih tempat-tempat mahal demi memenuhi kebutuhan rekreasi keluarga, cobalah untuk mencari tempat-tempat murah yang tak kalah asyik. Jika biasanya kita selalu memilih tempat wisata yang jauh dan memeakan biaya transportasi yang cukup besar, cobalah memilih tempat-tempat yang terdekat saja. Mengatur waktu jalan-jalan juga perlu dipikirkan. Yang biasanya jalan-jalan keluarga dilakukan tiap akhir pekan, mungkin bisa mengaturnya dua minggu atau sebulan sekali. Lebih hemat, bukan?

Ini hanyalah segelintir cara seorang ibu rumah tangga dalam menghadapi resesi. Sedikitnya, hal ini tentu bisa membantu agar masalah keuangan tak jadi rumit. Tak ada salahnya untuk dicoba. Jadikan ini sebagai gaya hidup baru di tengah resesi.

*Tulisan ini diikutsertakan pada 30 Days Writing Challenge Sahabat Hosting

4+
1 Shares:
2 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like