Cerita Lopis yang Tidak Pernah Habis

Lopis
Lopis

Tiap orang pasti memiliki penganan kesukaan yang legendaris. Artinya, penganan atau kue itu disukai sejak masih kecil dan hingga kini masih ada. Nah, saya juga punya. Salah satunya adalah lopis. Siapa yang belum belum pernah mencicipi lopis? Kalau kamu penyuka penganan manis,  perlu segera mencicipi kenikmatannya. Saya punya cerita menarik tentang lopis. 

Sekilas Lopis

Konon, lopis sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. adalah penganan tradisional yang memiliki rasa manis atau sangat manis. Bagi yang suka manis, lopis adalah pilihan yang pas. Penganan ini terbuat dari ketan dibungkus daun pisang atau daun tebu. Biasa dimakan dengan kelapa parut dan kinca (air gula aren). Ada dua model lopis yang biasa saya temui, yaitu bentuk bulat memanjang seperti lontong dan segitiga. Untuk yang bulat lonjong, saat memakannya dipotong-potong bulat. Lopis banyak ditemui di Pulau Jawa, termasuk Jakarta tentunya. 

Lopis Dahulu

 Lopis yang saya kenal ini ada di Jakarta, kota kelahiran saya. Tepatnya di Tebet, rumah orang tua saya.  Mungkin sejak SD, entah kelas berapa, saya sudah suka lopis. Ibu saya  yang mengenalkan jajanan lopis ini kepada saya. Rasa-rasanya, sejak pertama mencicipi, saya langung jatuh hati dan ketagihan. Dahulu, di lingkungan rumah kami, lopis dijual dengan menggunakan gerobak dorong berukuran sedang, mirip gerobak tukang rujak atau asinan. Penjualnya seorang bapak yang saat menjajakan lopisnya menggunakan topi. Penjual lopis yang saya tidak tahu namanya ini adalah tetangga dekat kami.  

Tiap pagi, bapak ini menjajakan lopisnya keliling perumahan. Suaranya yang khas berteriak “lopis” sangat menggoda hati. hampir tiap hari saya setia menanti. Lopis yang dijual bapak ini yang berbentuk bulat memanjang dibungkus daun pisang. Saya paling suka saat bapak ini memotong-motong lopisnya dengan seutas benang. Bukan dengan pisau, agar tidak lengket. Saya senang melongok-longok ke dalam gerobaknya. Ketan hitam ini tidak selalu ada di tiap penjual lopis. Gara-gara lopis berpadu dengan ketan hitam ini, saya jadi sangat suka juga dengan yang namanya ketan hitam. Pelengkapnya yang lain adalah parutan kelapa dan kinca. Saya juga senang melihat saat kinca dilelehkan ke atas lopis dan kelapa parut dengan sendok kayu kecil bergagang panjang. Menggemaskan. Saya pun ingin kinca yang lebih banyak. Satu porsi yang biasa saya habiskan adalah 2 atau 3 potong lopis dan 1 potong ketan hitam. Sangat mengenyangkan! 

Lopis Kini

Apakah hingga sekarang masih ada lopis ini? Tentu saja ada. Meskipun saya juga membeli macam-macam lopis yang lain, bagi saya tak ada yang pas di lidah saya. Mengapa lopis ini berbeda dari yang lain? Tekstur lopisnya padat dan empuk. Saat digigit, lopis tidak ambyar. Kincanya juga kental dan rasa manisnya pas. Tidak perlu menuang kinca banyak-banyak untuk memadukan rasa manis di lopis dan parutan kelapa. Parutan kelapanya juga tidak cepat basi, jika kita terlambat menyantapnya. Lopis Tebet itu selalu bikin rindu. Meskipun sekarang saya tinggal di Bekasi, jika ingin lopis saya akan memburunya ke Tebet. Namun, penjualnya kini digantikan oleh anak laki-lakinya, Bang Amin. Lopis tak lagi dijajakan keliling, melainkan mangkal di depan Gang Pule, nama gang rumah orang tua saya dahulu. Lopis dijajakan dengan etalase mungil di depan masjid. Stoknya pun tidak banyak dan cepat habis. Beberapa kali saya datang ke sana lopis sudah habis.

Lopis bisa dinikmati di tempat penjual soto mi Engkong Ali yang terletak di sebelahnya. Satu porsi berisi 3 potong lopis. Harganya sangat murah, lima  ribu rupiah saja. Sayangnya, kini tidak ada ketan hitam yang saya sukai itu. Namun, rasa lopis ini tidak berubah. Sama persis rasanya dengan yang dijual bapak lopis ketika saya masih kecil. Inilah yang membuat saya tidak bisa ke lain hati.

Itu sekelumit kenangan lopis yang tak terlupakan. Kini, saya tetap bisa menikmati lopis itu di Tebet. Cerita lopis lengendaris yang tak pernah habis. Saya biasa datang ke Tebet bersama ibu saya, kakak atau adik saya. Kami menikmati soto mi Engkong Ali dan tak ketinggalan lopis Bang Amin. Bukan hanya dinikmati di tempat, kami pun selalu membungkusnya untuk anak-anak kami di rumah. Lopis pun kami borong habis! Sebenarnya saya bukan penyuka penganan manis, tetapi kalau lopis saya susah menolak, apalagi lopis Tebet.

*Naskah ini diikutsertakan pada 30 Days Writing Challenge Sahabat Hosting

1+
1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like