Copy the Master, Warisan Mata Kuliah Penulisan Populer

Copy the Master
Copy the Master (Gambar: Freepik.com)

Pada era 90-an, saat duduk di tingkat tiga (mungkin), kami mahasiswa sastra Indonesia UI mengambil mata kuliah Penulisan Populer yang diajar oleh Bapak Ismail Marahimin. Yang mengambil mata kuliah ini bukan hanya mahasiswa jurusan sastra Indonesia, melainkan bisa semua jurusan. Dahulu, saya masih meraba apa sebenanya yang akan diajarkan di kelas ini. Kalau tidak salah, mata kuliah ini diberikan di dua semester. Ternyata, mata kuliah ini menjadi cikal bakal yang menemani saya berkarya untuk menghasilkan rupa-rupa tulisan populer. Setelah tahu, saya sangat suka mata kuliah ini dan sangat suka cara mengajar sang guru yang santai dan mudah dicerna. Satu yang tak bisa hilang dalam ingat adalah warisan Copy the Master-nya.  Di antara buku lama yang sudah saya loakkan, buku dengan judul Menulis Secara Populer berwarna biru telur asin ini masih setia bersama saya hingga kini.

Apa itu Copy the Master?

Agar tak salah persepsi baiklah saya kutip saya apa yang dimaksud dengan Copy the Master itu dari sumbernya langsung (Menulis Secara Populer, 1994, hlm. 11).

Kata orang, kalau kita belajar melukis cara Barat, kita belajar garis dan bentuk dulu, kemudian anatomi, perspektif, warna, dan sebagainya menurut urut-urutan yang sesuai dengan pendirian guru yang mengajar. Konon di Cina pada zaman dahulu tidak demikian halnya. Orang yang ingin menjadi pelukis akan diberi sebuah lukisan yang sudah jadi dan baik, biasanya yang dibuat oleh seorang master, yaitu ahli melukis atau pelukis terkenal. Sang calon pelukis disuruh meniru lukisan master tadi, sampai sebisa-bisanya, semirip mungkin. Sesudah sepuluh dua puluh kali mencoba, sang murid akan mendapat sebuah master baru untuk ditiru. Begitulah seterusnya sampai sang calon pelukis itu bisa melukis sendiri, dan menemukan bentuk yang khas yang sesuai dengan kepribadiannya. Metode ini yang biasanya dinamakan Copy the Master, yang artinya meniru lukisan seorang ahli. 

Pelajaran menulis pun mengenal metode ini. Pada dasarnya metode ini menuntut dilakukannya latihan berkali-kali sesuai dengan yang diberikan master. Artinya jika menulis ingin menerapkan metode ini, kita diminta untuk mengamati karya-karya orang lain yang dianggap baik. Tulisan-tulisan yang kita sebut sebagai model ini dibaca terlebih dahulu, dilihat isi dan bentuknya, lalu dibuat kerangkanya, baru kemudian mulailah menulis. Tentu saja tulisan yang dibuat nanti tidak sama persis dengan model. Kita tidak sedang menjiplak tulisan orang, melainkan meniru teknik menulisnya. Menulis adalah sebuah proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan.

Cara inilah yang dipakai Bapak Ismail Marahimin kepada mahasiswa-mahasiswanya. Mungkin bukan hanya ini metode yang diajarkannya, tetapi hanya ini yang melekat di otak saya. Saat mempraktikkan ini, saya yang semula tak pandai menulis, baik fiksi maupun nonfiksi, menjadi “berani” dan percaya diri. Bisa jadi, teman-teman saya pun merasakan hal yang sama. Hingga, tiap akan masuk kuliah ini, saya tidak sabar menanti kami akan disuruh mengamati dan meniru tulisan seperti apa lagi. Selalu mendapat ponten A adalah kebahagiaan dan pencapaian yang luar biasa bagi saya saat itu. Rasanya tidak ingin bolos untuk terus melahap mata kuliah ini hingga selesai. Satu cerpen saya bergenre horor dengan judul “Aroma Setanggi” lolos di majalah Fakultas Sastra UI. Wow! Pastinya, hasil belajar dengan metode itu tentunya.

Banyak cara untuk bisa menulis dengan baik. Metode Copy the Master hanya salah satunya. Intinya, banyak-banyaklah membaca karya yang baik, pelajari isinya, dan cobalah berkali-kali. Meniru tak selamanya berkonotasi negatif, bukan? Sekali lagi, Copy the Master saya anggap warisan kuliah Penulisan Populer, yang tak bisa hilang dalam ingatan. Semoga tak hanya menjadi nostalgia, tetapi bisa memecut semangat kita untuk menulis.

Baca juga: Menulis Bebas, Praktik untuk Diri Sendiri 

Baca juga: Langkah Praktis Menulis Artikel

Baca juga: Cara Menulis Cerpen Horor 

 

3+
1 Shares:
2 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Kebuntuan Menulis
Read More

Penyebab Kebuntuan Menulis

Setiap penulis mungkin pernah merasakan kebuntuan menulis. Baik penulis pemula, maupun penulis mahir. Kebuntuan menulis atau yang lebih…
Swasunting
Read More

Swasunting, Mengapa Perlu?

Swasunting atau self editing adalah proses yang dilakukan seorang penulis untuk memperbaiki tulisannya, baik, tulisan fiksi maupun nonfiksi.…