Menebar Energi Positif di Klub Pena

Klub Pena
Klub Pena (Gambar: Wulan)

Percayakah kalau kehadiran teman-teman kita bisa menebarkan energi positif? Saya percaya. Saya dan teman-teman klub menulis yang saya dirikan senantiasa melakukan hal itu. Dengan kata lain, saya dan teman-teman saling menebar energi positif di Klub Pena. Awal mendirikan klub ini saya hanya merekrut saudara kandung dan teman-teman yang kenal baik dengan saya. Ada teman SMA, teman kuliah, dan teman pengajian. Awalnya kami hanya bersepuluh, mungkin setelah hampir empat tahun ini jumlah seluruh anggota tidak tetapnya sekitar sembilan puluh.

Anggota dan Kelas

Bagi saya, angka bukanlah hal yang paling penting, meskipun senang juga jika pertemanan bisa semakin luas. Berapa pun jumlahnya, yang penting adalah kebersamaan dan kekeluargaannya. Di klub yang saya asuh ini, yang anggotanya rata-rata seusia dengan saya, kami belajar menulis bersama, hingga melahirkan karya bersama atau antologi. Saya yang berstatus ibu guru, tak selamanya menempatkan posisi itu. Saya lebih suka mengajar dengan gaya bersahabat, meskipun kadang saya sangat tegas atau mendadak galak. Jika saya rasa ilmu saya ada yang kurang, maka saya perlu menghadirkan guru-guru lain yang lebih ahli. Saat itulah saya merasa duduk sejajar  dengan sahabat-sahabat saya.

Awalnya, sebelum pandemi melanda, kedekatan kami terasa sekali lewat pelatihan-pelatihan menulis yang saya selenggarakan. Tidak sering, tetapi guru dan murid ini selalu rindu dan menanti-nanti kapan ada pelatihan lagi. Kadang pertemuan kami adakan di dalam kelas yang saya sewa, kadang hanya memanfaatkan kafe atau resto sebagai tempat belajar, berdikusi, dan merancang karya bersama. Jika ada yang tidak bisa hadir, rasanya sangat sedih. Jika ada yang sakit, semua menunjukkan empatinya. Sebisa mungkin saya mengingatkan agar ucapan dan perbuatan kami tidak ada yang saling menyakitkan atau melukai hati satu sama lain.

Menebar Energi Positif

Selama ini, yang saya rasakan kami punya semangat yang sama, meski keterampilan menulis kami berbeda-beda. Saya tidak pernah melihat adanya gab antara yang sudah mahir dengan yang masih pemula. Kami saling bantu jika ada teman-teman yang keterampilannya masih kurang. Hari-hari kami penuh dengan semangat kebersamaan dan canda. Jarak kota yang berbeda, tak pernah dipermasalahkan. Mau di Bekasi, Jakarta, Depok, atau Bogor, semua terasa ringan melangkah.

Ketika pandemi pertama melanda, kami awalnya merasa terpukul. Beberapa kegiatan di tahun ini yang sudah dirancang terpaksa dibatalkan. Kami harus patuh, demi keselamatan semuanya. Melihat situasi seperti ini, saya tidak tinggal diam. Dengan memanfaatkan semua media sosial, saya tetap membangun semangat teman-teman. Kelas-kelas dan seminar daring pun terselenggara. Buku-buku antologi kami malah semakin banyak yang terbit. Selain itu, teman-teman yang mau bergabung pun semakin luas. Ini keberkahan, kan? Dengan begitu, rasa rindu ingin bertemu secara perlahan terbayar. Kami tetap bersama, apa pun situasinya. Bukan hanya itu, agar kami tetap bisa menebar energi positif tentang menulis, saya berusaha aktif di grup Whatsapp. Kami saling berdiskusi, dengan diselingi saling canda penuh kekeluargaan.

Empat Tahun Bersama

Kini, klub ini hampir berusia empat tahun. penuh suka duka. Mengelola klub ini seorang diri tidak jadi masalah buat saya karena teman-teman selalu ada bersama saya. Klub ini tidak mungkin ada tanpa kehadiran teman-teman saya. Tidak akan pernah lahir buku-buku antologi, tanpa tulisan-tulisan yang ditorehkan teman-teman saya. Kini klub ini bagaikan rumah kedua bagi kami. Kami tidak peduli latar belakang pendidikan dan sosial kami dari mana. Kami tidak peduli kemampuan menulis kami ada di level yang mana.

Klub menulis telah menyatukan kami. Tidak hanya bersapa lewat daring, tetapi kami sudah memulainya lewat tatap muka langsung. Bagi teman-teman yang berada di kota yang sangat jauh, tentu belum bisa membayar rasa rindu bertemu. namun, saya yakin, suatu saat ini bisa terlaksana. Kondisi apa pun kini yang harus dihadapi, saya dan teman-teman klub sudah menjadi keluarga. Jika kami harus berlomba-lomba dalam pretasi menulis, semoga bukan untuk saling menyikut. Persaingan sehat itu boleh-boleh saja, agar semangat menulis tetap tumbuh.

Baca juga: Semangat dan Disiplin dalam Menulis

Baca juga: Berawal dari Pena

Baca juga: Untuk Apa Menulis?

1+
2 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Berawal dari Pena
Read More

Berawal dari Pena

Menulislah, agar kamu merasa bahagia. Saya sangat suka kalimat ini, meskipun entah siapa yang mengatakannya. Kalimat ini selalu…