Kelola Emosi Lewat Puisi

Kelola Emosi Lewat Puisi
Kelola Emosi Lewat Puisi

Emosi manusia adalah sebuah kelumrahan. Emosi adalah sesuatu yang wajar dialami tiap manusia. Ada yang mengatakan bahwa emosi manusia itu ada hal yang rumit dan beragam. Mari kita lihat apa arti emosi. Emosi adalah perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat. Emosi juga bisa berarti keadaan dan reaksi psikologis, seperti gembira, sedih, marah, haru, rindu, atau cinta. Sering kali orang mengartikan kata emosi sebagai kemarahan belaka. Padahal tidak demikian. Saya sendiri mengartikan emosi itu sebagai reaksi perasaan yang berlebihan dan terjadi secara spontan. Jadi, bisa rasa marah atau bahagia.

Emosi (yang berarti kemarahan) muncul karena suatu sebab. Saya ambil sebagai contoh, kemarahan yang timbul karena seseorang melakukan hal yang tidak sepantasnya kepada kita. Jika rasa marah ini dilampiaskan dengan cara yang salah, bukannya akan menyelesaikan masalah, malah akan menambah masalah. Bisa-bisa akan memunculkan rasa benci dan dendam. Juga memicu perselisihan atau permusuhan yang berkepanjangan. Mengelola emosi adalah jalan keluar yang baik.

Seperti dikatakan tadi bahwa emosi adalah hal yang dianggap wajar. Namun, kita perlu berhati-hati bertindak. Bisa-bisa malah menjadi petaka. Banyak cara untuk mengelola emosi. Berbagai perasaan yang timbul harus mampu dikendalikan karena kita dibekali oleh akal dan pikiran untuk melakukan tindakan yang baik. Tanpa merugikan diri sendiri, atau orang lain. Dengan begitu, pikiran lebih bisa terkendali sebelum melakukan tindakan. Saya pikir, ketika sedang dilanda emosi, kita perlu melakukan sesuatu yang menenangkan diri kita. Salah satunya adalah dengan menumpahkannya dalam puisi. Cara ini sering saya lakukan.

Emosi dan  Puisi

Bicara emosi pasti berkaitan dengan perasaan. Bicara puisi juga berkaitan dengan perasaan. Ketika emosi menghampiri, puisi bisa menjadi solusi.

Tanpa sengaja saya menemukan sebuah puisi terkait dengan isi tulisan saya ini. Puisi ini ditulis oleh MS Najib. Mari kita simak sejenak.

Meredam Amarah

Berlalu bergeming dengan prasangka

dan kini mengangkat nada–nada egois

hingga bermuara panas di jiwa

luapkan diri dengan  segenap emosi

 

Semua telah terjadi atas apa isi hati

mencaci, menghujat semua yang dikehendaki

tersampaikan oleh ruam merah pada mata

sang panas yang kini meliputi rasa

 

Tuhan…

tak seperti itu yang baik bagimu

maka redamkanlah amarah ini

semua hanya atas kehendakmu

hapuskan duka, lara dan prasangka di hati

 

Tuhan..

kami hitam tak seperti kesucianmu

namun tak lantas akan melalaikanmu

hanya kepadamu ku bersandar

dari keletihan hidup dan kehendakmu

Apa yang kamu rasakan saat membaca puisi di atas? Saat pertama kali saya membaca puisi ini, saya merasa bahwa puisi ini ditulis karena sebuah emosi yang meliputi diri seseorang (bukan berarti si penulisnya). Rasa marah yang dirasakan seseorang diluapkan dalam tulisan yang berisi dialog kepada Tuhan. Hanya Tuhan yang mampu meredam emosinya. Saya merasa bahwa dengan menuliskan puisi seperti ini, himpitan dalam hati akan lepas, terurai secara perlahan.  Saya pun demikian. Jika ada emosi (baik marah atau bahagia) akan saya kelola lewat puisi. Pada saat dilanda emosi, untaian kata-katalah yang bisa mengatasi, selain doa.

Puisi adalah Cara Cepat Mengobati

Menulis puisi seperti menulis diari. Tidak dibatasi ruang, tidak dibatasi waktu. Bisa ditulis dengan tangan, bisa diketik pada gawai. Mudah bukan? Puisi bisa ditulis dengan spontan tanpa terbebani dengan aturan, tetapi puisi juga bisa dipelajari dengan teori. Puisi adalah cara tercepat dalam mengatasi emosi yang meluap, tanpa kita perlu mendatangi sesorang atau psikolog untuk mengobati luka hati. Orang boleh tahu isi hati kita, boleh juga tidak. Puisi bisa menjadi privasi, bisa juga dipublikasi.

Jika kamu belum terbiasa mengungkapkan rasa atau emosi ke dalam puisi, cobalah. Tulislah semampu yang kamu bisa. Banyak orang merasa berhasil mengelola emosi lewat puisi. Jiwa akan terasa lebih tenang. Jika tak cukup sekali, tulislah berkali-kali. Puisi bisa dipelajari sendiri (autodidak), atau belajar kepada guru, asalkan jangan terbebani. Jika puisi ditujukan untuk mengelola emosi, saran saya, lakukan saja secara spontan, hingga emosimu tersalurkan.

 

Baca juga: Saat Puisi Berjodoh dengan Hypnowriting 

Baca juga: 5 Unsur dalam Menulis Puisi

*Tulisan ini diikutsertakan dalam 30 Days Writing Challenge Sahabat Hosting

5+
4 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like