Peran Ibu yang Gemar Mengajar dan Menulis di Era Digital

Peran Perempuan di Era Digital
Gambar: Wulan

Tidak hanya kaum laki-laki yang mampu mengambil peran di era digital. Kaum perempuan pun bisa. Bidang apa saja, perempuan bisa turut aktif mengambil banyak peran, asal memiliki kemampuan yang memadai. Ketika bicara peran, janganlah dibayangkan sesuatu yang sangat besar atau global. Peran yang kecil pun tak mengapa.

Ketika yang serba digital mulai mewarnai dunia, saya yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan menyambi bekerja sebagai guru dan penyunting (sejak tahun 2000) termasuk yang terlambat melek teknologi. Meskipun sehari-hari bekerja di depan komputer (dulu, belum punya laptop), jujur, saya sangat gagap teknologi. Tahunya hanya mengetik. Punya ponsel pun termasuk yang belakangan dibanding teman-teman saya.

Seiring berjalan waktu, kecintaan saya pada pekerjaan mengajar dan menyunting semakin lekat. Bukan hanya itu, saya pun mulai mendalami dunia penulisan. Mencoba-coba menulis dengan berbagai genre sangat mengasyikkan. Tahun 2009 saya merasa sangat butuh pada gawai (ponsel dan laptop), supaya tidak ketinggalan zaman. Alhamdulillah, suami mendukung pekerjaan saya ini. Dengan hadirnya dua gawai dalam hidup saya, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Saya merasa harus semakin produktif meningkatkan kemampuan menulis saya.

Gawai sebagai Sarana

Waktu terus berjalan, sebelas tahun belakangan saya semakin menikmati dunia penulisan. Karena tidak mau dibilang kudet, saya memanfaatkan sarana digital yang ada untuk menebar tulisan-tulisan saya. Dengan rasa percaya diri tinggi dan tidak takut menerima kritikan, saya terus menulis. Menulis apa pun yang baik-baik tentunya. Saya yakin sesederhananya tulisan-tulisan saya, ada manfaatnya bagi para pembacanya.

Era digital telah terbukti membuat segalanya jadi mudah. Mempromosikan sesuatu begitu mudah tanpa terikat waktu dan tempat. Tulisan-tulisan bisa dinikmati hanya dengan ponsel. Termasuk ketika pandemi melanda, gawai menjadi pilihan terbaik untuk bisa terus produktif. Kegilaan saya mengajar pun berangsur pindah dengan cara daring. Saya memilih tak lagi mengajar di kampus dan mendirikan klub menulis agar bisa lebih fokus memaksimalkan kemampuan menulis saya. Peran sebagai guru pun tak hilang. Dua pekerjaan bisa saya lakukan sekaligus, yakni mengajar dan menulis.

Berperan Ganda

Dahulu, menjadi pengajar dan penulis adalah sebuah cita-cita. Kini, dua-duanya telah tercapai. Tentu saja, bukan untuk menjadi guru besar atau penulis tersohor. Bagi saya, mengajar dan menulis adalah profesi sampingan setelah ibu rumah tangga. Saya selalu beranggapan bahwa menjadi pengajar adalah pekerjaan yang mulia. Bisa membuat orang lain pintar adalah kerja yang tak cukup dinilai dengan uang. Begitupun halnya dengan menjadi penulis.

Saat ini saya sangat menikmati menjadi pengajar di klub menulis yang saya dirikan sendiri. Bisa mengajak teman-teman mencintai hobi menulis, bisa mengajak teman-teman berkarya lewat tulisan, dan bisa menghimpun teman-teman dalam diskusi ketatabahasaan adalah hal yang menyenangkan. Di samping itu, saya tetap berkarya lewat buku dan web. Dua-duanya membuat saya bahagia, meskipun bukan berarti tak ada kendala. Membuat orang lain melek aturan bahasa Indonesia sungguh hal yang luar biasa. Mengenalkan kembali bagaimana letak tanda baca atau pemakaian huruf kapital yang sebelumnya tidak dipahami atau dilupakan oleh teman-teman saya adalah perjuangan.

Terus Melahirkan Karya

Kita semua pasti ingin membangun Indonesia menjadi lebih baik. Saat ini saya masih punya cita-cita yaitu sampai tua tetap mengajar dan menulis. Cita-cita saya tidak muluk-muluk, semua disesuaikan dengan kemampuan saya. mengajar menulis bagi kaum ibu muslimah adalah pilihan saya kini. Para ibu yang punya latar belakang pekerjaan dan pendidikan yang beragam tidak masalah. Mereka semua yang saya bimbing masih dalam kategori pemula. Ibarat guru TK yang mengajarkan anak yang belum mengerti apa-apa, itulah peran saya.

Satu tahun ini terasa sekali jam terbang mengajar daring dan menulis saya sangat tinggi. Ibarat bangun tidur hingga mau tidur kerja ini yang selalu saya pikirkan. Saya selalu berharap bisa mendampingi teman-teman untuk terus berkarya bersama dan bisa terus berdiskusi bersama. Tak hanya menulis buku kini, kami merambah ke dunia web. Lagi-lagi, bukan untuk mencari materi, melainkan kebahagiaan batin. Dengan membuat komunitas blogger di klub saya, kami saling menyemangati, bukan menyaingi.

Kaum ibu juga berperan di era digital, bukan? Semua bisa dilakukan, asal mau belajar dan mengenal teknologi.

Baca juga: Lakukan Promosi Daring untuk Membidik Pembaca

Baca juga: Terampil Menulis Lewat Media Sosial 

baca juga: Menumbuhkan Semangat Menulis 

*Tulisan ini diikutsertakan pada 30 Days Writing Challenge Sahabat Hosting

2+
1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like