7 Cara Jitu Menulis Novel Teenlit yang Perlu Dicermati

Menulis Novel Teenlit
Menulis Novel Teenlit (Gambar: Wulan)

Sahabat, pernah membaca novel teenlit atau novel remaja? Ingin mencoba menulis novel teenlit? Jika kamu punya hobi menulis novel, tak ada salahnya mencoba genre yang satu ini. Jika kita sudah tahu ilmunya, ternyata meramu cerita untuk remaja gampang-gampang susah. Namun, jangan khawatir, ada beberapa cara jitu untuk menulis novel teenlit yang perlu kita cermati. Mengapa? Tentu saja agar cerita kita nantinya tepat sasaran dan enak dibaca.

1. Pilih Ide yang tren di kalangan remaja.

Salah satu satu cara menentukan ide adalah pilihlah ide yang tren di kalangan remaja. Biasanya, ide itu seputar romance, persahabatan, petualangan, atau seputar hiburan yang sedang digandrungi (K-Pop, contohnya). Namun, bukan berarti ide-ide selain yang disebutkan ini tidak menarik. Semua bergantung pada cara penulisan cerita yang akan kita tulis. Ide apa pun bisa kita jadikan tulisan yang menarik. Ide lain seperti apa? Perjuangan hidup anak yatim piatu, atau kehidupan para santri, bisa kita jadikan ide juga.

2. Pahami target pembaca.

Setiap tulisan yang kita buat tentu memiliki target pembaca. Kali ini yang akan kita jadikan target adalah pembaca remaja. Maka isi cerita kita biasanya menyesuaikan dengan kehidupan di kalangan remaja juga. Namun, tidak menutup kemungkinan tulisan ini juga dibaca oleh orang dewasa. Artinya, kadang kita perlu menyesuaikan cara penulisan, agar tingkat usia remaja dan dewasa bisa menikmati tulisan kita. Misalnya, penggunaan bahasa alay yang terlalu berlebihan akan mengganggu pembaa dewasa.

3. Permainan dialog yang menyegarkan.

Umumnya, pembaca menyukai naskah yang banyak dialognya. Untuk memikat pembaca, kita perlu menciptakan dialog-dialog yang segar di dalam tulisan, agar pembaca tidak merasa bosan. Dialog seperti apa? Tentunya dialog yang biasanya tercipta di kalangan mereka, seperti candaan, letupan emosi, atau istilah-istilah “khusus” yang sering muncul dalam perbincangan anak remaja. Namun, perlu diingat, gunakan ini sesuai porsi dan batas kewajaran.

4. Pembuka yang menghentak.

Ketertarikan pembaca untuk melanjutkan bacaannya atau tidak pada sebuah novel ditentukan dengan pembuka cerita yang menghentak. Maksudnya, buatlah pembuka cerita yang menarik pada bab-bab awal, jika novelmu tidak ingin ditinggalkan pembaca. Pembuka cerita bisa diciptakan dengan penggambaran adegan awal yang menarik, percakapan yang seru, atau penggambaran tokoh-tokoh yang unik.

5. Membatasi narasi yang membosankan.

Narasi atau deskripsi termasuk elemen penting dalam keutuhan cerita pada sebuah novel selain dialog atau percakapan. Namun, perlu kita perlu menyiasati agar pembaca tidak merasa bosan ketika membaca. Tekniknya adalah memberikan narasi atau deskripsi yang tidak terlalu panjang dan bertele-tele. Apalagi jika narasi yang diciptakan lebih banyak telling daripada showing. Pembaca remaja menyukai bacaan yang banyak menampilkan aksi. Narasi yang singkat dan jelas menjadi salah satu taktik yang jitu.

6. Menciptakan konflik yang seru.

Remaja memiliki rasa keingintahuan yang besar. Gejolak emosinya pun besar. Menciptakan konflik yang seru dalam cerita tentulah menjadi tantangan bagi mereka. Kisah-kisah petualangan yang digambarkan dengan beberapa konflik yang sulit atau seru akan lebih menarik. Yang lainnya lagi, misalnya, perjalanan hidup yang ditempuh dengan cara yang tidak mudah, pengalaman yang penuh tantangan, perubahan perilaku tokoh yang tadinya A menjadi Z, tentu menjadi bidikan yang tepat. Dengan kata lain jangan menciptakan konflik yang mudah menyelesaiannya.

7. Menciptakan adegan yang memikat.

Adegan atau potongan peristiwa adalah poin terakhir yang tidak kalah penting. Penyajian adegan atau peristiwa yang menarik menjadi daya pikat kepada pembaca. Menarik di sini adalah adegan yang tidak berulang. Adegan-adegan yang itu-itu saja atau berulang akan terasa membosankan. Misalnya, tiap bab selalu ada adegan makan. Kita perlu menciptakan beberapa adegan yang berbeda di tiap bab, jika memungkinkan. Untuk mengatur adegan-adegan yang perlu kita tampilkan nantinya tak ada salahnya kita membuat outline (kerangka) terlebih dahulu, sebelum menulis.

Baca juga: Cara Menulis Cerita Horor

Baca juga: Ketahui 5 Manfaat Menulis Outline

Baca juga: Bagaimana Cara Menemukan Ide?

 

1+
1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like