Proses Cipta Buku Pengasuhan: Anakku Sahabatku

Proses Cipta Buku Pengasuhan
Gambar: Freepik.com

Hampir tiap ibu bercita-cita ingin memberikan pengasuhan (parenting) yang terbaik bagi anak-anaknya. Segala cara ditempuh dengan mempelajari banyak hal terkait pola pengasuhan anak. Mana yang paling bisa diterapkan untuk anak-anaknya, itulah yang dipilih. Mengapa harus memilih? Pada kenyataannya di lapangan, teori pengasuhan anak yang kita pelajari, tak selalu cocok dengan kondisi keluarga kita. Karakter ibu dan karakter anak tiap keluarga pasti berbeda.

Keseruan selama belasan tahun mendampingi anak-anak saya (yang kala itu menginjak usia remaja) membuat saya merasa terusik untuk menulis sebuah buku tentang pengasuhan anak. Pada 2017 saya memberanikan diri menulis buku pengasuhan yang sangat simple. Baik dari isi, maupun dari bentuknya yang mungil dan tipis. Buku ini berjudul Anakku Sahabatku.

Saya bukan pakar parenting. Bukan juga seorang psikolog anak. Saya hanya seorang ibu yang pada waktu itu berkeinginan kuat menulis buku tentang pengasuhan anak. Jadi, ide menciptakan buku Anakku Sahabat-ku adalah pengalaman pribadi saya sebagai ibu yang membesarkan tiga anak. Tentu saja proses cipta buku pengasuhan ini tidak terlalu sulit karena kerangka tulisan sudah ada di kepala saya yang tiap harinya banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak. Fokus penulisan buku ini lebih menekankan peran ibu kepada anak-anaknya yang mulai menginjak remaja, tanpa mengesampingkan peran ayah.

Apa saja yang dikupas dalam buku Anakku Sahabatku?

1. Dua Generasi yang Berbeda

Di sini saya membahas tentang dua generasi antara orang tua (dalam hal ini ibu) dan anak. Lahir dan hidup di masa yang berbeda. Apa yang dilihat, apa yang dilalui, apa yang menjadi selera atau keinginan tentulah berbeda. Lalu, yang sering terjadi ketika anak beranjak remaja adalah seolah-olah anak menjadi sulit menurut. Seorang ibu tidak bisa memaksakan kehendaknya agar anak menjadi patuh. Seorang ibu juga perlu melihat sisi kehidupan anaknya yang memiliki selera yang berbeda. Sulitnya membangun komunikasi yang baik antaa ibu dan anak juga bisa disebabkan kesibukan masing-masing. Tanpa disadari, hubungan menjadi renggang, sehingga komunikasi menjadi buruk.

2. Pendidikan Agama

Agama menjadi landasan pendidikan yang pertama bagi anak. Jika sejak mereka balita sampai duduk di Sekolah Dasar nilai-nilai agama sudah ditanamkan, begitu pula di masa anak remaja. Ketika mereka tumbuh remaja ada baiknya pendidikan agama tetap melekat dalam keseharian mereka. Jangan sampai terhenti atau diabaikan. Peran ibu sebagai pengawal dan pengawas tetap dibutuhkan. Jangan sampai di dunia remaja mereka malah terombang-ambing karena landasan agamanya tidak kuat. Seorang ibu yang punya banyak waktu dengan anak-anak di rumah sudah semestinya mendekatkan anak-anak kepada kegiatan yang mendekatkan diri anak-anak dengan Sang Pencipta.

3. Komunikasi Dua Arah

Bukan rahasia lagi bahwa menjalin komunikasi yang baik antara ibu dan anak adalah kunci keharmonisan. Komunikasi yang baik dan efektif bisa menyisihkan rasa takut dan malu pada anak untuk mengeluarkan pendapat. Mereka akan merasa lebih didengar. Jika ayah atau ibu menanggapi positif pernyataan anak, akan membuat diri anak lebih berani dan ekspresif. Sudah sepantasnya seorang ibu bisa menciptakan suasana yang nyaman di rumah atau pada saat bepergian, agar komunikasi tercipta dengan baik.

4. Dukungan untuk Anak

Masa remaja adalah masa penuh warna. Masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Ketika anak mulai berani membuka diri dengan teman-temannya, alangkah baiknya seorang ibu tetap mengawasi dan menjaganya dengan “berjarak”. Artinya, anak tidak merasa diawasi secara ketat, tetapi anak merasa nyaman bahwa ibu mereka memerhatikan kegiatan apa yang mereka lakukan. Sesungguhnya di usia remaja, anak membutuhkan dukungan dari ibu dan juga ayahnya.

5. Ibu Sahabat Anak

Bagaimana cara menjadi sahabat bagi anak? Arti sahabat sendiri adalah seseorang yang dekat dengan kita. Baik fisik, maupun hati. Sahabat ada ketika kita bahagia atau di saat sedih. Bahkan, seorang sahabat kadang rela berkorban. Demikian juga penggambaran seorang ibu yang menjadi sahabat bagi anaknya. Menumbuhkan sikap saling terbuka, saling percaya, dan saling memahami di kala senang maupun susah akan mampu menciptakan kedekatan batin antara ibu dan anak. Jika kedekatan ini sudah terbentuk, tidaklah sulit bagi ibu dan anak untuk melangkah bersama. Anak akan merasa sangat nyaman berada bersama ibu.

Kira-kira seperti inilah gambaran buku pengasuhan Anakku Sahabatku. Apa yang saya lewati bersama anak-anak, baik suka maupun duka, telah menempatkan saya sebagai sahabat bagi anak-anak saya yang kini beranjak dewasa. Buku ini pastinya akan menjadi kenangan untuk saya dan semoga bermanfaat bagi pembacanya!

Baca juga: 4 Novel dalam Proses yang Pendek

*Tulisan ini diikutsertakan pada 30 Days Writing Challenge Sahabat Hosting

3+
1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like