Saat Puisi Berjodoh dengan Hypnowriting

puisi dan hypnowriting
Puisi dan Hypnowriting (Gambar: Wulan)

Klub Pena dan Sedaring Hypnowriting

Sedaring (Seminar Daring) Hypnowriting (Hypnotic Writing) pernah akan diselenggarakan oleh Klub Pena sebelum badai Corona menerjang. Dua minggu sebelum pelaksanaan terpaksa dibatalkan demi kemaslahatan semua pihak. Namun, di tengah badai yang tak kunjung reda ini, Klub Pena akhirnya tetap menyelenggarakan sedaring ini dengan alat bantu yang populer, zoom meeting. Alhamdulillah, 40 peserta mendaftar. Sedaring ini berlangsung selama tiga jam, bersama narasumber Asep Herna, atau yang biasa disapa Kang Asep. Kang Asep adalah seorang senior copywriter, creative director Macs 909, dan master trainer hypnotherahy and NLP.

Untuk mengulas isi hypnowriting secara dalam, jujur, saya tak mampu, meski sudah berkali-kali dijejali. Ilmu yang baru saya pelajari ini sangat membuat penasaran, dan tidak mau menunda-nunda lagi untuk tahu.  Kenapa? Karena kata Kang Asep, peserta nantinya mampu mengaplikasikan pola bahasa hypnotic writing pada penulisan kreatif. Tentu saja ini menantang, untuk kami yang selalu bergelut dengan tulisan.

Apa itu Hpynowriting?

Dari pemaparan soal hypnotic writing, saya pahami bahwa hypnotic writing adalah teknik menulis dengan tujuan memengaruhi subconscious audience (bawah sadar) untuk melakukan tindakan sesuai pesan yang disampaikan penulis. Dengan kata lain, bahasa (yang diwakili oleh tulisan) merupakan alat trance yang sangat efektif. Untuk menciptakan tulisan yang seperti ini tentunya ada beberapa “kunci ajaib” yang mampu menghipnotis audiens, dalam hal ini tentu saja pembacanya. Tujuannya agar pesan yang disampaikan penulis lebih “mengena” di hati pembaca, bukan hanya berhenti pada logika (benar-salah). Selain itu, saya menggarisbawahi ada kekuatan lain dalam penciptaan karya, yaitu daya imajinasi. Seorang penulis harus memiliki kemampuan  imajinasi yang luas.

Satu demi satu pemaparan saya ikuti dengan sangat serius. Banyak contoh yang dipaparkan, tetapi hati saya, sebagai pecinta puisi, berjodoh dengan pemaparan proses kreatif Doa Saja Tidak Cukup, sebuah karya yang diciptakan Kang Asep bersama timnya untuk penggalangan dana musibah Palu beberapa waktu lalu.  Saya pun “terhipnotis”, mungkin saja peserta lainnya juga. Saya merasakan bagaimana tulisan itu punya pesan dan rasa yang kuat kepada audiens.

5 Kunci Ajaib

Apa sebenarnya 5 “kunci ajaib” itu? Doa Saja Tidak Cukup, memiliki 5 “kunci ajaib” dalam proses penciptaannya, yaitu:

  1. Rima (permainan bunyi vocal atau konsonan).
  2. Repetisi (pengulangan kata atau kalimat).
  3. Daya Imajinasi Asosiasi atau pemilihan diksi yang menyamakan sesuatu dengan karakter benda lain (seperti metafora, personifikasi, analogi, dll)
  4. Trans Derivational Search (TDS). Bisa diterjemahkan sebagai: bayangkan, imajinasikan, dan rasakan.
  5. Present Tense (sekarang, bukan nanti). Ini terkait pesan yang ingin disampaikan.

Puisi dan Hypnowriting

Sedaring berlangsung selama 3 jam dan diakhiri dengan tanya jawab yang seru. Selesai acara ditutup, saya tetap menyisakan rasa penasaran. Rasanya belum puas, jika saya belum mencoba menerapkan 5 “kunci ajaib” tadi dalam penciptaan puisi saya. Esok pada Subuh, pikiran dan tangan saya tergerak untuk membuat coretan puisi berjudul Dirgahayu Indonesiaku (yang bertepatan dengan hari Kemerdekaan Indonesia ke-75). Dari puisi kilat dan sederhana ini, saya berusaha memasukkan 5 “kunci ajaib”, dengan harapan saya mampu meng”hipnotis” pembacanya.

 

Dirgahayu Indonesiaku

aku terlahir di bumi Indonesiaku

aku menikmati alam Indonesiaku

aku mematri karya untuk Indonesiaku

 

Dirgahayu Indonesiaku

aku tetap di sini karenamu

aku tetap di sini bersamamu

aku tetap di sini mencintaimu

(Wulan Deli, Bandung, 16 Agustus 2020)

Puisi ini bisa dinikmati di chanel Youtube Puisi Dirgahayu Indonesiaku.

 

Sedikit mengulas, pada puisi Dirgahayu Indonesiaku, rima tersebar pada bunyi ‘i’ (terlahir, menikmati, mematri), ‘u’ (ku, mu). Repetisi ada pada Indonesiaku, aku tetap di sini. DAS ada pada mematri karya. TDS secara implisit ada pada pesan yang disampaikan pada bait kesatu dan kedua. Penulis berharap, pada puisi ini pembaca bisa merasakan “kecintaan dan semangat bela negeri” pada tanah air tercinta.

Setelah membaca ulasan di atas, apakah kamu juga tertarik mencoba metode hypnowriting pada puisi?  Tak aada salahnya mencoba, dan rasakan dahsyatnya!

Baca juga: Kekuatan Kata pada Hypnowriting

Baca juga: Hypnotic Writing dari Sang Pakar

Baca juga: Karena Sinyal, Hypnowriting Bubar

Baca juga: Hipnotis Audiensmu dengan Metode Hypnowriting

3+
1 Shares:
2 comments
  1. Ulasan Hypnotic Writing di tulisan ini sangat dalam dan komprehensif. Apalagi kemudian metodenya diaplikasikan ke dalam contoh puisi “Dirgahayu Indonesiaku”. Terasa sekali powernya.

    Terima kasih untuk ulasan ini. Semoga juga menginspirasi pembaca lain, untuk mengaplikasikannya ke dalam ragam tulisan apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Kebuntuan Menulis
Read More

Penyebab Kebuntuan Menulis

Setiap penulis mungkin pernah merasakan kebuntuan menulis. Baik penulis pemula, maupun penulis mahir. Kebuntuan menulis atau yang lebih…