Sekilas Mengenal Puta Dino, Kain Tenun Tidore

Put Dino
Puta Dino (Foto: Wulan)

Tahukah kamu apa Puta Dino? Kali ini saya akan mengupas soal Puta Dino, kain tenun Tidore. Saya dan keluarga adalah penyuka kain-kain tradisional Indonesia, seperti batik, tenun, dan songket, meskipun hanya dipakai pada kegiatan formal. Tiap kali melihat atau memiliki kain tradisional, selalu ada perasaan bangga. Memiliki kain tradisonal merupakan ungkapan rasa cinta dan kebanggaan terhadap karya anak bangsa. Begitu pula halnya dengan kain Tidore atau dikenal dengan puta dino.

Pertama kali saya mengenal puta dino dari seorang sahabat saya, Ade Solihat. Saya tertarik untuk melirik sebuah pameran kerajinan Indonesia yang digelar di Jakarta Convention Center di Jakarta, pada waktu itu, atas informasi Ade Solihat. Beberapa kali saya dan keluarga memang  datang ke pameran besar itu, tetapi biasanya fokus kami hanya melihat dan mencari kain batik. Baru kali ini saya dan suami mencari tahu dan mendatangi stan yang menjual puta dino. Sepintas, kain ini mirip dengan kain batik pada umumnya. Karena langsung jatuh hati, saya dan suami memilih motif anyaman berwarna hitam abu-abu untuk dijadikan sarimbit.

Kain Tenun Tidore
Kain Tenun Tidore

Saat membeli, saya tidak tahu banyak tentang kain Tidore ini. Awalnya saya hanya tertarik dengan motifnya yang tampak elegan. Saya pikir, nantinya kain ini bisa kami jadikan pakaian resmi yang bagus. namun, setelah itu barulah saya tahu bahwa Ade Solihat dan kawan-kawan tengah melakukan penelitian tentang puta dino dan menerbitkan sebuah buku bertajuk Revitalisasi Puta Dino: Tenun Tidore yang Telah Punah. 

Dari buku yang saya baca ini, akhirnya saya temukan sejarah dan upaya pelestarian puta dino di Indonesia. Buku ini dicetak dalam bentuk yang sangat eksklusif, padat informasi dan memuat sejarah yang sangat detail tentang keberadaan puta dino. Perlu waktu panjang untuk membaca dan menelaah isinya. Meski begitu, sebagai orang  awam, saya berusaha menangkap hal-hal menarik yang bisa saya ceritakan.

Inilah sekilas informasi yang ingin saya sampaikan tentang puta dino:

Puta Dino bagian dari Sejarah Kesultanan Tidore

Kain Tenun Tidore
Kain Tenun Tidore

Puta Dino adalah kain tenun Tidore, Maluku Utara. Puta artinya ‘kain’, sedangkan dino artinya ‘tenun’ atau ‘anyaman’. Masyarakat Tidore menyebut semua kain dengan sebutan puta atau puta dino. Dahulu, pada masa Kesultanan Tidore, puta dino dikenakan oleh kaum bangsawan, hingga rakyat biasa. Rakyat biasa memakai corak, model, dan bahan yang lebih sederhana dibandingkan kaum bangsawan.

Puta dino adalah kain bawahan yang biasa dipadankan dengan kebaya atau baju kurung. Kain ini biasa dipakai oleh kaum perempuan. Namun, kini perempuan Tidore tidak lagi menggunakan kain ini sebagai pakaian sehari-hari, melainkan hanya dipakai saat upacara adat. Kini perempuan Tidore memakai pakaian biasa yang dipakai oleh perempuan Indonesia dan sebagian besar berbusana muslimah.

Perempuan Tidore dan Kegiatan Menenun

Alat Tenun
Alat Tenun

Jejak kebudayaan menenun masyarakat Tidore ini  ditemukan oleh para peneliti/penulis dengan ditemukannya alat tenun ikat pakan yang sudah tua. Pada masa lampau, masyarakat Tidore menenun untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan mereka. Menurut penelitian, hampir di setiap rumah dapat dijumpai alat tenun.

Di beberapa masyarakat yang masih melestarikan kegiatan menenun, pekerjaan menenun identik dengan pekerjaan perempuan. Karena saat ini tak lagi dijumpai perempuan yang menenun di Tidore, maka ada upaya menghidupkan kembali kegiatan menenun oleh sekelompok anak muda (Ngofa Tidore) demi melestarikan warian budaya.

Menenun bukanlah pekerjaan mudah dilakukan. Bukan pula sekadar mengasah keterampilan tangan. Menenun bukan hanya mengaitkan benang lungsi dan pakan dengan menggunakan tangan dan alat tenun, melainkan memasukkan perasaan dan imajinasi, agar kain punya “jiwa”. Jika kita punya kesempatan mengunjungi Tidore, maka akan kita temukan Rumah Tenun sebagai destinasi wisata yang baru diresmikan tahun 2019.

Inspirasi Motif Tenun Tidore

Motif Tenun Tidore
Motif Tenun Tidore

Melihat fisik puta dino, hampir serupa dengan kain-kain tradisional Indonesia pada umumnya, seperti betik, tenun, atau songket. Namun yang saya ketahui setelah membaca buku, bahwa ada beberapa kekhasan pada motif kain Tidore ini.  Inspirasi motif tenun itu  adalah barakati dan marasante. Keduanya berbentuk anyaman. Kemudian ada jodati yang bermakna ketulusan (motif anyaman bambu), dan mapolu, lambang kesultanan Tidore yang bermakna ‘mengayomi dan melindungi’. Keempat inspirasi dijadikan motif utama puta dino. Selanjutnya motif-motif lain  digali melalui penelusuran sejarah, kearifan lokal masyarakat, dan juga kekayaan alam di Tidore. Kegiatan ekonomi, seperti berburu, menangkap ikan, dan berkebun tergambar pada motif kain tersebut.

Inilah sekilas tentang kain Tidore  berdasarkan sumber buku Revitalisasi Puta Dino. Semoga yang sedikit ini bisa membuka wawasan kita tentang kekayaan bangsa yang perlu dilestarikan.  Kain Tidore kini bisa kita miliki dengan pilihan model pakain yang menarik. Seperti kata saya, kain tenun ini tampak cantik dan elegan. Harganya yang tinggi menunjukkan proses pembuatan yang tak mudah dan juga ketinggian nilai seni.

Sumber Foto: Buku Revitalisasi Puta Dino dan koleksi pribadi.

4+
2 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like