Semangat dan Disiplin dalam Menulis

Semangat dan Disiplin Menulis
Gambar: Wulan

Banyak orang ingin konsisten menulis. Namun, lebih sering mandeg-nya, karena sulit mewujudkannya. Dulu sekali  saya juga begitu. Ingin jadi penulis, tetapi tidak ada aksi. Kini, tidak lagi. Ternyata memang kuncinya ada dua, yaitu, semangat dan disiplin dalam menulis. Kalau kita bisa menjaga ini, insyaallah, menulis tak hanya jadi angan.

Hobi saya dulu, ketika masih jadi mahasiswi, senang sekali menulis puisi. Hanya teman-teman dekat yang tahu puisi-puisi saya. Buat saya, menulis puisi itu mudah. Hanya asah rasa dan bermain diksi. Biasanya lahir secara spontan. Saya belajar otodidak saja dan sering melirik puisi orang. Tak harus karya penyair ternama.

Semangat Belajar

Tahun 2012, atas dorongan seorang sahabat baik saya, lahirlah buku puisi pertama. Setelah itu, saya tak pernah puas menjadi seorang penulis puisi. Dengan mengikuti banyak kelas menulis daring dan luring. Tak terhitung banyaknya. Kelas menulis yang saya ikuti adalah: menulis artikel, cerita anak, cerpen, novel, parenting, artikel di surat kabar, travel writing, blog, dan lain-lain. Rasanya, tak pernah cukup menggali ilmu dengan siapa dan di mana pun.

Meski tidak ada keluarga atau teman yang membersamai kala itu, bagi saya tak masalah. Memang semangat itu harus kita yang memompa sendiri. Hingga akhirnya perlahan mendapat komunitas sesama penulis. Bisa saling tukar info dan berbagi jurus. Satu yang perlu diingat untuk menjaga semangat, tulislah apa yang kita sukai dan kuasai, agar tak menjadi beban.

Terapkan Disiplin

Soal kedisipinan, inilah yang selalu saya junjung tinggi. Disiplin sudah ditanamkan sejak kecil oleh Ibu dan Bapak, mulai dari urusan bangun tidur, makan, belajar, dan bekerja. Kedisiplinan ini terus terbawa sampai usia jelita. Ini yang saya jaga dalam menjalankan hobi dan profesi menulis. Buatlah kerangka, perhatikan tenggat, dan membuat jadwal untuk tiap tulisan. Jika ini kita lakukan, tidak ada kerja yang menumpuk, apalagi sampai lewat tenggat. Tidak ada hari yang saya lewatkan untuk menulis, meski sekadar berbagi info di status Facebook atau  di blog pribadi. Yakinlah bahwa semua yang kita tulis menyimpan kebaikan.

Banyak Menulis

Lalu, seiring waktu berjalan, saya menggembleng diri dengan terus secara konsisten menulis. Empat tahun terakhir saya berusaha melahirkan tulisan-tulisan lewat buku antologi yang ditulis bersama teman-teman di klub menulis yang saya gagas, Klub Pena, atau dengan komunitas lain. Kegigihan saya terus dipacu dengan tetap menerapkan kedisiplinan dalam menulis hingga lahir 6 buku solo berikutnya. Hanya beberapa yang bisa tembus penerbit mayor, yang lainnya dengan swaterbit. Itu tak menjadi masalah, yang penting terus punya semangat berkarya. Jika menerima kritik, jangan putus asa, terus perbaiki dan jangan pernah matikan semangatmu.

Sekelumit kisah ini semoga bermanfaat.

Baca juga: 5 Unsur dalam Menulis Puisi

 

1+
2 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like