Swasunting, Mengapa Perlu?

Swasunting
Swasunting (Gambar: Freepik.com)

Swasunting atau self editing adalah proses yang dilakukan seorang penulis untuk memperbaiki tulisannya, baik, tulisan fiksi maupun nonfiksi. Swasunting merupakan proses akhir setelah penulis menyelesaikan seluruh tulisannya. Perlunya melakukan swasunting, agar tulisan yang kita buat terhindar dari kesalahan atau meminimalkan kesalahan tulis. Seorang penulis perlu memeriksa ulang seluruh tulisannya apakah seluruhnya sudah benar-benar sesuai atau belum. Kesalahan ini biasanya seputar kata yang tertulis dua kali, ejaan yang salah, typo, kurangnya tanda baca, masalah spasi, dan lain-lain. Sering kali penulis lebih mengutamakan isi tulisannya, daripada disibukkan urusan swaunting. Akibatnya, orang yang membaca tulisan kita merasa tidak nyaman. Oleh karena itu, swasunting sangatlah dianjurkan untuk dilakukan sebelum penulis menyerahkan naskahnya kepada seorang penyunting.

Ada kalanya penulis merasa enggan melakukan swasunting. Mengapa? Karena sebagian penulis menganggap urusan ini menjadi tanggung jawab penyunting. Anggapan ini sangat disayangkan, karena sesungguhnya kecakapan seorang penulis, tidak melulu diukur dari konten tulisannya, melainkan juga dari kerapian cara penulisannya. Menjadi penulis yang ramah terhadap penyunting adalah sikap yang sangat bijak. Tidak ada salahnya, tulisan yang kita buat sedikit mungkin ada kesalahan, sehingga tidak terkesan sangat berantakan. Dengan meminimalisasi kesalahan lewat swasunting, tentu saja bisa menaikkan rasa percaya diri dan kredibilitas seorang penulis.

Lalu, apa yang harus kita lakukan terkait dengan persoalan swasunting ini? Berikut ini adalah langkah-langkah yang perlu kita lakukan, yang dapat memotivasi kita akan perlunya swasunting.

1. Pelajari PUEBI dan KBBI

Sebelum menekuni profesi penulis, belasan tahun saya berkecimpung dalam dunia penyuntingan. Selain itu saya juga menghabiskan waktu tujuh tahun sebagai guru bahasa Indonesia, yang khusus mengajar tata bahasa dan menulis. PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) dan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) menjadi santapan sehari-hari. Bisa jadi karena pengalaman ini maka saya termasuk yang sangat berhati-hati dalam menulis dan tidak bisa meninggalkan aturan PUEBI dan KBBI demi menjaga agar tulisan rapi dan memadai.

Mau tidak mau, seorang penulis, sekali pun penulis fiksi, cukup paham dengan dua perangkat ini, agar tidak asal. PUEBI dan KBBI kini bisa dengan mudah di akses dengan ponsel. Jika lupa, klik saja dan pelajari lagi. PUEBI adalah pedoman seputar pemakian huruf kapital, tanda baca, ejaan, dll. Sementara KBBI adalah kamus yang akan menuntun kita mana kata baku yang dipakai dalam penulisan. Untuk KBBI ini kita perlu tahu pemutakhirannya karena untuk beberapa tahun bisa mengalami perubahan atau penyesuaian.

2. Jangan Cepat Puas dengan Hasil Tulisan Sendiri

Beberapa penulis, sering merasa puas apabila sudah menyelesaikan tulisannya. Perhatian mereka lebih kepada konten tulisan daripada kerapiannya. Kerapian di sini terkait dengan masalah yang udah disebutkan tadi: salah ketik, kurang huruf, salah tanda baca, spasi, dan lain-lain. Kelihatannya hal ini sepele, namun jika dibiarkan akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pembacanya. Sangat dianjurkan, selesai menulis naskah, ada baiknya kita periksa kembali kata per kata, baris per baris, kalimat per kalimat, agar tak lagi dijumpai kesalahan-kesalahan itu.

3. Hindari Tergesa-gesa

Apa pun pekerjaannya, jika dilakukan dengan tergesa-gesa tentu saja hasilnya kurang baik. Menulis pun begitu. Banyak penulis yang hanya mau menuli di waktu yang mepet tenggat. Dengan alasan bahwa ide akan lebih cepat mengalir di waktu yang sempit. Mungkin saja benar. Namun, ketergesa-gesaan ini apakah diimbangi oleh kepiawaian kita dalam menulis (mmengetik) rapi? Jika ya, tidak jadi masalah. Jika tidak, hasil tulisan kita nanti akan terlihat berantakan dan tidak fokus. Boleh-boleh saja kita menulis dengan sistem kebut emalam, tetapi sempatkanlah untuk tetap melakukan swasunting. Periksa kembali apakah tulisan kita sudah memenuhi standar penulisan yang baik atau belum.

4. Endapkan Tulisan Sejenak

Mengapa tulisan yang sudah selesai kita tulis perlu diendapkan sejenak? Ada kalanya rasa penat malanda seorang penulis ketika baru saja menyelesaikan satu tulisan. Apalagi, jika tulisan itu adalah tulisan panjang. Membiarkan sejenak tulisan kita sebelum dikirim ke bagian penyuntingan atau penerbitan, adalah hal yang baik. Kesibukan kita menyelesaikan sebuah konten yang utuh memang menyita waktu dan perhatian, sehingga banyak penulis yang sering mengatakan, “Sudah tulis dulu sampai selesai, ngeditnya belakangan.” Ada benarnya juga, agar kita bisa lebih fokus menyelesaikan satu tulisan sampai selesai terlebih dahulu. Biasanya hal saya lakukan adalah dalam sejenak melupakan naskah. Bisa dalam hitungan jam, atau hitungan hari, agar mata dan otak kita lebih fresh. Setelah mengistirahatkan mata dan pikiran, barulah saya membaca ulang naskah dari awal, sambil melakukan swasunting. Jika mata dan pikiran udah jernih kembali, pekerjaan swasunting ini tidak menjadi beban. Saat itulah kita baru menyadari bahwa di dalam tulisan lita banyak ditemukan kesalahan, ibarat kutu yang mengganggu mata. Kecil, tetapi banyak.

5. Jangan Enggan untuk Membuang yang Salah

Jangan merasa sayang pada kesalahan yang kita buat. Sering kita merasa sudah lelah menulis, lalu malas untuk memeriksa ulang. Padahal, bisa jadi saat membaca ulang kalimat-kalimat yang kita tulis akan kita temukan kalimat-kalimat tidak efektif. Seorang penulis, yang sudah punya jam terbang tinggi, bisa saja melakukan kelalaian. Misal, tanpa sadar mengulang-ngulang maksud kalimat yang sama, salah menempatkan kata sambung, atau memasukkan kata nonbaku ke dalam tulisan formal. Jika kita temukan kesalahan seperti ini, kita harus tega mengganti atau membuang yang tidak perlu. Jangan karena khawatir jumlah kata atau halaman akan berkurang, maka kita tidak mau melakukannya. Intinya, jangan enggan untuk memeriksa ulang kalimat-kalimat kita yang sudah tertulis.

7. Sediakan Waktu Khusus untuk Swasunting

Poin terakhir adalah sediakan waktu khusus untuk melakukan swasunting. Atau dengan kata lain, buatlah jadwal kapan kita akan melakukan swasunting sebelum tulisan diunggah di media sosial atau dikirim ke pernerbit. Beruntunglah jika tulisan hanya diunggah ke media sosial karena di lain waktu bisa kita sunting lagi. Tidak demikian halnya dengan naskah cetak yang tidak bisa diperbaiki sesuka hati. Saya biasanya menyediakan waktu satu hari untuk naskah pendek, dan waktu satu minggu untuk naskah panjang (missal serratus halaman). Jadi, jika kita menyelesaikan tulisan mepet tenggat, bagaimana kita bisa melakukan swasunting?

Inilah beberapa hal yang mungkin bisa membuka wawasan kita mengapa swasunting itu begitu penting bagi seorang penulis. Jangan sepelekan swasunting, lakukan hal yang terbaik bagi tulisanmu sendiri. Jadikan tulisan kita sedap dipandang mata.

Baca juga: 4 Jurus agar Tulisan Kita Indah

Foto: dokumen pribadi

6+
2 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Untuk apa menulis?
Read More

Untuk Apa Menulis?

Menulis menjadi kegemaran bagi sebagian orang. Untuk apa menulis? Menulis merupakan salah satu cara mengungkapkan pikiran yang tidak…