Tantangan Mengajar Menulis Daring di Masa Pandemi

Tantangan Mengajar Menulis di Masa Pandemi
Gambar: Wulan

Banyak cara membangkitkan semangat di masa pandemi. Tak perlu selamanya kita menjadi kaum rebahan yang tak tahu harus berbuat apa. Pandemi yang diyakini sebagai ujian, harus mampu dilewati. Pada masa awal pandemi, banyak orang merasa syok dan harus berpikir keras bagaimana melanjutkan hidup dan bekerja dalam suasana yang tak biasa. Masa kuncitara (lockdown) yang telah dilalui sekitar sepuluh bulan, ternyata tak selamanya membuat masyarakat pasif. Malah, masa kuncitara ini, bagi orang-orang yang kreatif, menjadi tantangan dan membuka peluang baik untuk aktivitas yang mengasah keterampilan, maupun pekerjaan. Aktivitas atau pekerjaan baru ini tentu saja dilakukan secara daring, tanpa harus banyak bergerak ke luar rumah. Berbagai macam kursus dan pelatihan yang bisa diikuti berbagai usia bermunculan. Salah satunya adalah aktivitas mengajar dan belajar menulis dengan daring. Saya termasuk yang memanfaatkan peluang ini dengan membuka kelas menulis daring.

Peluang Mengajar Daring

Bagi saya, justru di masa pandemi ini, kegiatan mengajar menulis saya sangat padat. Peluang mengajar terbuka sangat luas dan mudah. Jika dibandingkan masa sebelum pandemi, saya hanya sesekali saja membuka kelas karena sulit mencari peminatnya. Tanpa disangka-sangka, ibu-ibu yang ingin belajar menulis semakin banyak. Bahkan, banyak dari mereka sama sekali belum pernah belajar membuat tulisan. Ada juga yang hanya coba-coba dan hanya sekali mengikuti pelatihannya.

Mengapa kegiatan belajar menulis ini diminati? Karena kegiatan menulis tidak membutuhkan perangkat yang rumit. Hanya dengan mengandalkan ponsel dan laptop yang ada di rumah, semua bisa ikut belajar. Saya, sebagai pengajarnya, juga tidak perlu repot-repot menghabiskan waktu di jalan. Cukup memanfaatkan fasilitas Zoom Meeting dan Grup Whatsapp kegiatan belajar mengajar bisa berjalan lancar. Biaya pelatihan menulis pun tidak terlalu mahal untuk ukuran dompet ibu rumah tangga. Ibu-ibu yang menjadi peserta kelas menulis saya  sangat menikmati kemudahan ini. Sambil mengawasi anak-anaknya PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, kegiatan belajar daring bisa diikuti dengan waktu yang fleksibel.

Peminat kelas menulis tak hanya wilayah Jabodetabek. Jangkauannya meluas sampai ke luar pulau, bahkan ke luar negeri. Teman-teman yang tinggal di luar negeri bisa bergabung. Dengan adanya kemudahan perangkat digital, semuanya terasa jadi mudah. Ibu-ibu yang menjadi peserta kelas menulis saya pun jadi punya kegiatan baru yang bemanfaat. Di rumah saja, tetap bisa produktif berkarya. Jika tiap bulan mereka mengikuti kelas menulis yang berbeda, tentu makin banyak karya yang dihasilkan, bukan? Guru senang, murid pun senang.

Tantangan Mengajar Daring

Berdasarkan pengalaman saya yang memanfaatkan masa pandemi dengan belajar dan mengajar kelas menulis secara daring tetap ada kendala. Kendala pertama, karena tidak bertatap muka langsung dengan murid, sering kali dalam pemberian materi jadi kurang maksimal. Hal ini terkendala karena gangguan sinyal pada saat menggunakan Zoom Meeeting atau ketidaktelitian saat menjelaskan materi lewat ketikan Whatsapp. Berbeda sekali rasanya dengan mengajarkan dengan cara luring (tatap muka langsung). Pengajar bisa langsung menangkap ekspresi atau maksud pernyataan dari murid tentang materi yang kurang atau tidak jelas. Saat memberikan penjelasan harus diulang berkali-kali. Akhirnya hasil yang dicapai dari beberapa murid pun tidak maksimal. Kendala kedua, jika menggunakan chat Whatsapp, seing kali timbul kesalahpahaman antara guru dan murid. Karena bahasa tulisan yang singkat, sering menimbulkan salah paham. Maksudnya ini, ditanggapinya begitu. Untuk memperbaiki kesalahpahaman ini membutuhkan energi mengetik yang cukup melelahkan, ketimbang bicara langsung. Kendala yang ketiga adalah gangguan sinyal. Jika aman, kelas berjalan lancar. Jika sinyal bermasalah, berulang kali di kelas Zoom saya jadi terhenti, meski tak sampai berantakan. Perlu kesabaran tingkat tinggi berurusan dengan sinyal yang byar pet.

Namun demikian, kendala-kendala di atas sebisa mungkin mampu diatasi, agar kelas bisa terus berlanjut. Kendala tak selamanya bisa dihilangkan, hanya bisa diminimalisasi. Meski jadwal mengajar sangat padat, saya masih menikmati sepenuh hati. Peluang dan tantangan ini menjadi bagian dari hidup saya kini.

#tulisan ini diikutsertakan pada 30 days writing challenge Sahabat Hosting

2+
1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Kebuntuan Menulis
Read More

Penyebab Kebuntuan Menulis

Setiap penulis mungkin pernah merasakan kebuntuan menulis. Baik penulis pemula, maupun penulis mahir. Kebuntuan menulis atau yang lebih…