Teman Menulis yang Asyik, Seperti Apa?

Teman Menulis yang Asyik
Gambar: Freepik.com
Apa kriteria teman yang asyik bagimu? Tiap orang tentu saja punya kriteria yang berbeda, bagaimana teman yang asyik itu. Teman yang asyik adalah teman yang kehadirannya membuat rasa nyaman. Bagi saya, teman yang menyenangkan itu bisa orang yang kita kenal, orang tua, kakak atau adik kandung, sepupu, dan, bahkan suami. Teman yang menyenangkan itu adalah teman yang kita merasa nyaman bila ada di dekatnya.
Kegiatan saya belakangan ini banyak berkutat dengan tulis-menulis. Bukan lagi sekadar hobi, melainkan juga profesi, dengan mengelola sebuah klub menulis bernama Klub Pena. Dalam kegiatan ini, saya menempatkan diri bukan hanya sebagai guru, melainkan juga sebagai teman. Teman sehobi dan sehati.
Empat tahun mengelola klub menulis ini, tentu saja jaringan pertemanan saya semakin meluas. Meski didera pandemi, pertemanan kami tak pupus, malah semakin lekat.  Sejak berkegiatan menulis bersama, saya menemukan hal-hal yang mengasyikkan bersama mereka. Mau tahu kriteria teman menulis yang asyik bagi saya seperti apa?

1. Teman yang Menyulut Semangat

Saya bukan orang yang senang menyendiri. Kalau boleh memilih, saya paling senang berada bersama-sama teman dalam melakukan satu kegiatan atau hobi. Rasanya asyik dan seru jika sudah bertemu. Kehadiran teman sehobi atau seprofesi sering kali menyulut semangat menulis saya. Jika semangat saya terjun bebas, saya akan senang berjumpa dengan teman yang bisa memompa semangat saya kembali dengan berbagi ide yang luar biasa. Mood menulis saya akan meningkat, jika bertemu dengan teman yang hobi menyulut semangat.

2. Teman yang Mau Mendengar

Ada kalanya ide di kepala terasa buntu. Masalah sering datang menghampiri. Jika sedang merasa terpuruk atau terpojok, kehadiran seorang teman begitu penting. Penulis bukanlah profesi yang selamanya aman dan tanpa masalah. Kehadiran seorang teman yang mau mendengarkan keluh kesah dan membantu mencarikan solusi adalah penyelamat bagi saya. Sering kali orang hanya mau berbicara, tanpa mau menjadi pendengar yang baik bukan? Seorang teman yang memiliki kepekaan dan kerelaan yang tinggi dalam mendengar adalah teman yang super bagi saya.

3. Teman yang Senang Diajak Berdiskusi

Teman yang asyik bukanlah melulu yang harus setia mendengarkan curhatan kita yang tak kunjung berakhir. Memiliki teman yang seprofesi tentu sangat menyenangkan karena bisa saya ajak berdiskusi untuk membahas seputar pekerjaan tulis-menulis. Ada kalanya, apa yang kita lakukan kurang tepat. Dengan berdiskusi akan ada pembicaraan dua arah yang bisa membuka wawasan dan memecahkan solusi. Di samping itu, dengan memiliki teman berdiskusi, saya menjadi sadar bahwa tak selamanya apa yang saya tulis atau saya lakukan, selalu benar.

4. Teman yang Bisa Menghargai

Menulis adalah kegiatan yang memerlukan proses panjang. Pandai menulis tidak bisa diwujudkan dengan cara instan. Untuk bisa menjadi penulis yang mahir dibutuhkan kerja keras. Tulisan yang kita hasilkan tidak langsung bagus. Teman yang asyik adalah teman yang bisa menghargai apa pun hasil tulisan kita. Tidak memojokkan, apalagi memberikan cap jelek yang bisa membuat semangat kita down.

5. Teman yang Mau Berbagi

Berbagi tak selamanya berupa materi. Teman yang asyik adalah teman yang tidak pelit ilmu. Dia mau berbagi dan senang melihat temannya maju. Bukan sebaliknya. Menyembunyikan dan menutup rapat-rapat ilmu yang dia miliki. Tentu kita bisa membayangkan, jika kita tengah mendapat kesulitan, kemudian hadir seorang teman yang mau berbagi. Rasanya senang, bukan? Begitu juga halnya dengan dunia menulis yang saya geluti ini. Banyak teman yang mau dengan suka rela berbagi ilmu, demi kemajuan yang akan kita capai secara bersama.
Demikianlah teman menulis yang asyik bagi saya. Berada di klub menulis yang sama-sama kita cintai telah memberi warna yang berbeda dalam kehidupan saya sebagai penulis. Tak hanya sekadar teman di hati, tetapi juga teman dalam bekerja.
*Tulisan ini diikutsertakan dalam 30 Days Writing Challenge Sahabat Hosting
10+
6 Shares:
6 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Kebuntuan Menulis
Read More

Penyebab Kebuntuan Menulis

Setiap penulis mungkin pernah merasakan kebuntuan menulis. Baik penulis pemula, maupun penulis mahir. Kebuntuan menulis atau yang lebih…