Untuk Apa Menulis?

Untuk apa menulis?
Untuk apa menulis? (Gambar: Wulan)

Menulis menjadi kegemaran bagi sebagian orang. Untuk apa menulis? Menulis merupakan salah satu cara mengungkapkan pikiran yang tidak terucap. Tentu tiap orang punya alasan mengapa dirinya ingin menulis. Ada yang sekadar mengisi waktu kosong, ada yang menulis karena hobi. Ada juga orang yang menulis karena profesinya. Untuk siapa tulisan itu ditujukan pun berbeda-beda.  Ada yang menulis hanya untuk dirinya sendiri karena tidak ingin seorang pun tahu cerita yang ditulisnya, ada pula yang menulis karena ingin membagi cerita kepada orang lain. Ini semua adalah pilihan.

Bagi orang senang menulis untuk dirinya sendiri, biasanya dia akan menumpahkan idenya di dalam buku diari, yang orang lain tidak perlu tahu apa yang dia tulis. Menulis baginya menjadi tempat mencurahkan isi hati atau tempat menuangkan cerita yang dianggapnya punya nilai berharga. Para pecinta diari, yang menulis tiap lembarnya hampir tiap hari, bisa meninggalkan jejaknya sampai berpuluh-puluh buku diari, meskipun tidak untuk dibaca orang. Baginya, menulis adalah pelepasan dan kepuasan batinnya. Menulis diari adalah kesenangan.

Bagi orang yang menulis dengan tujuan memberikan wawasan untuk orang banyak, atau dengan kata lain, meninggalkan jejak ilmu atau cerita, maka dia akan mencari wadah menulis agar tulisannya bisa dibaca banyak orang. Apa yang akan dia tulis pun dipikirkan masak-masak, agar pembacanya nanti mendapatkan hiburan atau manfaat dari tulisannya. Jadi, bukan hanya untuk kesenangan dirinya dia menulis, tetapi mengajak orang lain untuk menyukai tulisannya. Jika pembaca tulisannya merespon baik, ini menjadi semangat baginya untuk terus menulis.

Bagi orang tertentu yang memang sudah punya bakat menulis, tentu dia akan dengan mudah menuangkannya dalam kalimat-kalimat yang baik atau menuangkannya menjadi cerita yang menarik. Begitu pula halnya dengan orang-orang yang punya dasar pendidikan bahasa, sastra, dan budaya. Meskipun orang bahasa tidak semua yang bisa menulis, tetapi paling tidak mereka memiliki ilmu tentang itu. Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak punya latar pendidikan bahasa atau tidak punya bakat menulis apakah bisa menulis? Tentu saja bisa. Teknik menulis bisa dipelajari oleh siapa pun. Tidak dibatasi oleh usia dan tidak dibatasi oleh latar pendidikan. Ada orang yang berprofesi dokter, arsitek, atau ibu rumah tangga yang sukses dengan tulisannya.

Kesenangan atau Beban?

Bagi yang suka menulis dan punya waktu luang, menulis menjadi kegiatan yang menyenangkan. Orang yang sangat sibuk dengan pekerjaannya, seringkali merasa bahwa dia tidak punya waktu untuk menulis. Bagi orang seperti ini mungkin menganggap menulis menjadi beban. Menulis malah menambah stres. Namun, ada pula orang yang di tengah kesibukannya, selalu punya waktu untuk menulis, meskipun sejenak. Orang yang seperti ini menganggap bahwa menulis bisa melepaskannya dari kejenuhan. Dengan menulis, hilanglah kepenatan. Jika menulis dianggap sebagai beban pekerjaan, maka akan terasa berat melakukannya.

Bagi saya, menulis di saat sempit atau lapang, sudah menjadi kesenangan. Tinggal saya mengaturnya kapan waktu yang paling tepat untuk menulis, tanpa merasa terbebani. Di saat saya sedang sibuk mengajar, biasanya saya hanya menulis puisi di waktu menjelang tidur, atau membuat tulisan-tulisan pendek penghias status pada akun-akun media sosial. Yang ditulis seputar peristiwa-peristiwa yang saya pernah alami, atau berbagi tips dan nasihat. Di saat yang lapang, barulah saya dengan serius menyiapkan tulisan yang lebih “berisi” seperti artikel pendek, cerpen, kisah inspiratif, atau novel.

Mengapa Perlu?

Awalnya, saya juga menulis hanya untuk dinikmati oleh diri sendiri. Lama kelamaan saya memberanikan diri untuk berbagi cerita kepada teman dekat atau orang lain. Tidak masalah, pembaca mau berkomentar apa tentang isi tulisan yang saya buat. Namun, tidak dipungkiri, respon positif yang diberikan pembaca tulisan saya, menjadi pemicu semangat agar saya terus menulis. Saya menyimpulkan bahwa di balik kekurangan, ada kebaikan tulisan yang kita sampaikan kepada pembaca. Yang tadinya tidak percaya diri, makin percaya diri. Yang tadinya merasa tulisannya belum baik, menjadi baik. Jadi, untuk apa menulis? Bergantung pada kebutuhan kita masing-masing.

Baca juga: Berawal dari Pena

 

5+
1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like